×

Tentang Tahun 1 Hijriah (3)

  • Posted:
  • Author:
Tentang Tahun 1 Hijriah (3)

Makkah, 11 September 622 Masehi, atau 29 Safar 1 Hijriah, langkah suci Sang Nabi dengan tenang meninggalkan rumah yang sudah dikepung oleh kaum kafir Quraisy. Beliau berjalan keluar kota Makkah pada malam hari menuju Madinah, hanya ditemani oleh Abu Bakar.

Tentang Tahun 1 Hijriah (3)

Makkah, 11 September 622 Masehi, atau 29 Safar 1 Hijriah, langkah suci Sang Nabi dengan tenang meninggalkan rumah yang sudah dikepung oleh kaum kafir Quraisy. Beliau berjalan keluar kota Makkah pada malam hari menuju Madinah, hanya ditemani oleh Abu Bakar.

Beberapa hari sebelumnya, orang-orang kafir Makkah panik. Secara tiba-tiba lembah atau sya’ib Abu Thalib kosong.[1] Satu persatu kaum muslimin meninggalkan Makkah menuju Madinah. Mereka mengendap keluar dari kota pada waktu malam atau siang hari secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Hingga kaum muslimin yang tersisa di kota itu sekarang tinggal Muhammad SAW, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan putri-putri Nabi SAW, Ummu Kultsum dan Fatimah Az Zahra.

Kegentingan ini membuat mereka melakukan rapat darurat di Darun Nadwah.[2] Semua pemuka klan di Makkah hadir di sini termasuk dari klan Bani Hasyim yang diwakili oleh Abu Lahab. Menurut Thabari, tokoh-tokoh Quraisy yang hadir pada waktu itu 40 orang. Mereka mencari strategi pamungkas untuk mengakhiri dakwah Muhammad SAW selamanya.

Beragam usulan muncul, mulai dari hukuman seumur hidup, pengusiran dari kota Makkah, hingga usulan untuk membunuh Nabi SAW. Khusus untuk usulan terakhir ini, beberapa dari mereka tidak sepakat, karena apabila Nabi SAW dibunuh, maka otomatis klan Bani Hasyim akan menuntut membalas, dan ini akan mengakibatkan perang saudara. Sampai akhirnya, dari semua usulan yang muncul, mereka sepakat untuk memakai usulan Abu Jahal.[3]

Dalam sejarah suku Quraisy, usulan Abu Jahal ini tidak pernah digunakan pada siapapun. Dan mungkin juga tidak pernah terpikirkan oleh siapapun di masa itu. Ia mengusulkan agar setiap klan mengutus perwakilannya untuk bersama-sama membunuh Muhammad SAW. Setiap perwakilan klan harus menebaskan pedangnya ke tubuh Muhammad SAW hingga tewas. Dengan demikian, tidak ada satupun dari kalangan Bani Hasyim yang akan menuntut balas atas kematiannya. Usulan ini akhirnya disepakati secara aklamasi oleh semua yang hadir.

Sebagaimana yang sudah direncanakan, semua pemuda dari setiap suku berkumpul dan melakukan pengepungan pada rumah Nabi SAW. Tidak main-main, yang melakukan pengepungan ini adalah orang-orang terbaik dari setiap klan yang ada di Makkah. Sejak sore hari mereka sudah mengunci pekarangan rumah Muhammad SAW dengan pagar betis. Semua skenario sudah diperhitungkan, dan mereka bersepakat untuk membunuh Sang Nabi. Begitu malam menjelang, mereka mulai melakukan provokasi dengan melempari rumah Nabi SAW dengan batu. Ini dilakukan untuk memancing Nabi SAW keluar, sebab bagi bangsa Arab, adalah aib bila mendobrak pintu rumah yang di dalamnya ada wanita.[4]

Sepanjang malam, mereka mengintip dari celah-celah, dan memastikan bahwa di tempat tidur Nabi SAW masih ada orang, yang dengan demikian, Muhammad SAW masih ada di dalam. Sampai di pagi hari, ada yang menyampaikan berita pada mereka bahwa Muhammad sudah meninggalkan Makkah sejak semalam. Berita ini sangat mengguncang bagi mereka. Sehingga mereka mendobrak pintu rumah Muhammad, dan mendapati yang tidur di ranjang Nabi sejak semalam adalah Ali bin Abi Thalib ra.  Menyaksikan ini mereka segera lari mengejar Rasulullah SAW, dan meninggalkan Ali bin Abi Thalib begitu saja.

Andai mereka tau apa yang akan dilakukan pemuda ini dalam berbagai pertempuran di masa depan, dimana setiap dari mereka akan merasakan tebasan pedang pemuda ini yang terkenal tiada tanding, tentu mereka akan membunuhnya. Dan sejarah Islam akan berubah sama sekali. (APP)

Bersambung ke:

Catatan kaki:

[1] Lembah atau sya’ib Abu Thalib, adalah tempat “dikurungnya” klan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib oleh Kafir Quraisy Makkah. Hukuman ini merupakan respon atas dakwah Nabi SAW yang tidak kunjung henti setelah diperingatkan berkali-kali oleh para pemimpin Kafir Quraisy. Tekanan yang dilakukan kaum kafir Makkah terhadap diri Nabi dan pengikutnya, dilakukan dengan berbagai cara, berupa boikot, pelecehan, penghinaan, penyiksaan, penganiayaan, pemenjaraan, isolasi, dan embargo. Kaum Jahiliyah tersebut membuat selebaran ke masyarakat yang berisi : 1) tidak boleh kawin dengan anggota keluarga Bani Hasyim; 2) tidak boleh melakukan jual beli dengan keluarga Bani Hasyim; 3) anggota keluarga Bani Hasyim tidak boleh keluar dari sya’ib Abu Thalib kecuali untuk melakukan umrah pada bulan syawal dan berhaji pada bulan suci. Aksi boikot ini berlangsung selama 3 tahun, atau sampai Rasulullah hijrah ke Madinah. Lihat, O. Hasem, Ibid, Hal. 97-98

[2]Darun Nadwah adalah balai pertemuan adat masyarakat Makkah waktu itu. Balai ini dibuat oleh leluhur Nabi Muhammad SAW yang bernama Qusay bin Qilab. Ia adalah orang pertama yang berhasil mempersatukan klan-klan yang ada disekitar Ka’bah. Mereka berdiskusi dan memecahkan berbagai persoalan di dalam balai pertemuan ini. sebagian masyarakat mempercayai bahwa Darun Nadwah, adalah bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di kota Makkah.

[3] Menurut Ibn Hisham, nama sebenarnya Abu Jahal adalah ‘Amr, dan karena kecerdikannya, oleh orang-orang kafir Quraisy dia dinamakan Abu’l Hikam (Bapak yang Bijak). Tapi dihadapan wajah kenabian, dia tak bisa menyembunyikan diri. Kepicikannya, kebodohannya dan perilakukan yang begitu kejam kepada Nabi Muhammad SAW, tidak bisa melestarikan julukan Abu’l Hikam. Hingga hari ini, julukan Abu’l Hikam tak pernah lagi diingat orang. Sejarah hingga kini mengenalnya dengan sebutan Abu Jahl (Bapak Kebodohan). Lihat, Syed Ameer Ali, Op Cit, Hal 54

[4] Menurut O. Hasem, pada malam pengepungan ini, di rumah Nabi SAW ada 2 orang wanita, yaitu Ummu Kulsum dan Fatimah Az Zahra. Mereka adalah rombongan terakhir yang melakukan Hijrah. Rasulullah menunggu Ali bin Abi Thalib dan kedua putrinya di Quba, sebelum nantinya bersama-sama memasuki Madinah. Dalam versi yang agak berbeda, Syed Ameer Ali menyatakan bahwa yang ada di dalam rumah Rasulullah pada malam itu hanya Ali bin Abi Thalib. Tapi agaknya pendapat O. Hasem lebih tepat, mengingat cukup sulit memahami alasan Kafir Quraisy tidak mendobrak rumah Rasulullah bila ternyata didalamnya hanya ada Nabi SAW, yang merupakan target utama pengepungan ini.

Apa Kata Mereka

ABDUR RACHMAN RASYID

Syukur yang tak terhingga kami ucapkan dapat melaksanakan Ibadah Umroh bersama Jasmine Tour & Travel. Dengan pelayanan dan fasilitas yang sangat memuaskan. Sukses selalu buat Travel Jasmine Tours Umroh & Hajj Service

ABDUR RACHMAN RASYID

H. MUKTASIM MUSTOPA HAKIM, MADURA

Jasmine Tours siap mengantarkan Jamaah Umroh Keluarga. Fasilitas Hotel Bintang 5 dan makanannya ala Indonesia dan Arab

H. MUKTASIM MUSTOPA HAKIM, MADURA

HJ. LILIK MUSTOFA MARHADJI, SURABAYA

Jasmine Tours adalah salah satu biro travel umroh yang sangat berpengalaman baik dari segi pelayanan dan fasilitasnya

HJ. LILIK MUSTOFA MARHADJI, SURABAYA

MIMIK SUHARTATIK SOEHARTO

Alhamdulillah Travel Jasmine Memberikan pelayanan yang sangat berkesan. sukses Buat Jasmine

MIMIK SUHARTATIK SOEHARTO

HJ. HORIYAH USMAN ARJATIN, SURABAYA

Assalamualaikum wr wb. Alhamdulillah Kami Sekeluarga sudah selesai umrahnya. Terima kasih untuk Jasmine Tours. Umrah kali ini sangat berkesan banget karena kami sekeluarga merasa satu tim itu benar-benar kekeluargaan banget. Dan dari Pak Ustadz pembimbingnya juga sangat luar biasa. Ngasih masukannya juga dalam, kena banget di hati.

HJ. HORIYAH USMAN ARJATIN, SURABAYA